Mush'ab Zahra Blog

Inspirasi Hidup

Sahabat Pena

Asti, nama itu yang selalu aku ingat. Entah kenapa aku tak bisa melupakan temanku yang satu itu. Dia bukan teman sekelasku ataupun teman bermain. Aku mengenalnya dari sebuah majalah. Saat itu aku duduk di kelas 2 SMP. Aku iseng mengirim sebuah surat perkenalan pada salah satu pengirim surat pembaca di majalah itu. Majalah yang aku pinjam dari kakak perempuanku. Aku tertarik sekali dengan nama salah satu pengirim surat pembaca itu. Anastasia. Nama yang cukup cantik. Aku membayangkan pasti orangnya juga secantik namanya. Anastasia, atau aku biasa memanggilnya Asti membalas suratku dengan cepat. Dia menyambut hangat permintaanku untuk menjadikannya sahabat pena. Dan surat menyurat pun tak berhenti sampai di situ saja. Selama tiga tahun kami berkomunikasi lewat surat. Meski saat itu hp sudah mulai menjamur, kami tetap setia dengan surat-menyurat itu.

            Hingga akhirnya saat kami kelas 2 SMA hubungan kami berakhir. Dia bilang akan pindah ke Yogyakarta. Aku berpikir, kami akan lebih dekat. Yap, aku juga tinggal di Yogyakarta. Tapi semua itu salah. Aku justru kehilangan dia. Dia pergi tanpa kabar. Tanpa memberitahuku dimana alamat barunya. Aku merasa hidupku ini sepi. Aku tak bisa kehilangan dia. Asti yang selalu mewarnai hari-hariku. Asti yang membuatku selalu senyum-senyum sendiri. Asti yang membuatku bersemangat untuk mengukir prestasi. Asti yang membuatku semangat untuk menulis. Ya, tak bisa kupungkiri lagi, aku telah jatuh cinta padanya, meski aku belum pernah bertemu dengannya.

            Bagaimana bisa aku tak jatuh cinta pada orang yang benar-benar hebat. Di usianya yang masih muda, dia telah mengukir berbagai prestasi. Ditambah lagi, wajahnya pun tak kalah cantik dengan Asmirandah.

            Aku memandangi pena berwarna silver ditanganku. Pena pemberian Asti sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-17. Pena itu selalu aku simpan dan jaga hingga di usiaku kini yang telah menginjak 21. Aku hanya menggunakan pena itu di saat acara-acara pentingku. Aku menggunakan pena itu pertama kali untuk tanda tangan karena aku akan mewakili Yogyakarta dalam Olimpiade Sains Nasional Matematika di Balikpapan.

            Benar kata Asti, enaknya menang OSN adalah bisa jalan-jalan gratis. Ya, Asti pernah meraih medali emas olimpiade Biologi saat SMP. Itulah yang memotivasiku untuk bisa menyeimbanginya. Kami sempat berjanji kami harus bisa mewakili Indonesia di OSN tingkat SMA. Tapi aku gagal. Aku berhenti di tingkat Nasional. Aku bisa meraih medali emas nasional tapi aku tak bisa mewakili Indonesia. Karena aku jatuh dalam bahasa Inggris. Yah, Bahasa Inggrisku kalah sama anak-anak kota. Hehehe…

            Kini, aku sedang menyelesaikan risetku. Riset tentang Cloud Computing atau biasa disebut dengan teknologi komputasi awan. Riset ini yang akan aku ikutkan untuk meraih beasiswa dari MITI.

            Setiap kali aku mengingat Asti, aku selalu bersemangat untuk berprestasi. Semangat untuk mengukir sejarah dengan tinta emas. Itu pula yang membuatku mencintai dunia riset. Karena aku ingin suatu saat nanti aku bertemu dengan Asti dengan tinta emasku. Biarkan dia menyesal karena telah meninggalkan dan melupakanku.

            Tak terasa air mataku menetes. Cengeng memang. Tapi apa dikata, buku yang sekarang ada di tanganku cukup membuatku tergoncang. Sebuah novel bercover biru dengan judul Embun Jiwa. Bukan ceritanya yang membuatku meneteskan air mata. Tapi nama pengarangnya. Dua nama penulis buku yang memang aku akui hebat. Dua orang yang menjadi motivatorku. Dua orang yang aku kagumi. Kini, dalam hitungan menit saja mereka membuat hidupku gelap. Anastasia atau Asti. Itulah nama pengarang pertamanya. Asti memang sejak dari SMP sudah menjadi seorang penulis. Aku pun mengoleksi novel-novelnya. Dan salah satu alasannya menghadiahiku pena adalah agar aku menyukai dunia tulis menulis. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa menulis. Dengan tekadku, kini tulisanku sering nampang pula di berbagai surat kabar dan juga blog.

            Penulis kedua sekaligus desainer cover adalah Danar Hidayat. Tahu siapa dia? Dia adalah kakak kelasku saat SMA yang membimbingku sampai aku bisa meraih medali emas tingkat nasional. Dia juga yang mengajariku menulis. Sekarang pun dia sedang menempuh pendidikannya di S2. Dan tahukah apa hubungannya dengan Asti? Dialah suami dari Asti. Ya, Asti telah mewujudkan impiannya. Begitu juga Mas Danar. Mereka berdua pernah bercerita padaku, mereka ingin menulis buku bersama pendamping hidupnya.

            Aku jatuh dalam penantian panjangku. Aku yang selalu berharap ingin berkarya dan mengukir prestasi bersama Asti kini hanya mimpi belaka. Seharusnya penulis kedua buku itu bukan Mas Danar, tapi aku, Randy.

            Beberapa hari ini aku tak nafsu makan. Aku masih kepikiran dengan novel itu. Pikiranku kacau. Risetku pun kacau pula. Bodohnya, untuk apa aku menelepon Mas Danar. Hal konyol itu membuatku semakin sakit. Terdengar suara wanita di seberang sana. Aku yakin sekali itu suara Asti. Itulah pertama kalinya aku mendengar suaranya. Aku diam tak menjawab salamnya.

            “Randy?” sapa Asti. Aku terkejut dia menyebut namaku.

            “Ya… ini Asti kah?” tanyaku tak sanggup untuk hanya diam saja.

            “Benar. Aku Asti. Sahabat penamu,” jawabnya.

            “Bagaimana kau bisa tahu dan yakin kalau ini adalah aku?” tanyaku penasaran.

            “Maafkan aku,kalau aku tak pernah menulis surat lagi padamu. Aku pernah cerita pada Mas Danar, dan ternyata dia mengenalmu. Aku pun tahu kisah-kisahmu dari dia. Emmm,,, mungkin kau juga sudah tahu hubunganku dengan Mas Danar?” kata Asti.

            “Ya, aku tahu. Selamat ya… dan kau telah mewujudkan impianmu untuk menulis bersama suamimu. Mas Danar itu seorang penulis yang hebat juga. Memang ya, orang hebat itu jodohnya ya sama yang hebat juga. Hehe…,” kataku berusaha untuk tertawa meski dadaku terasa sesak.

            Begitulah, kami berbincang tentang keadaan kami masing-masing. Hingga akhirnya suara Mas Danar menggantikan Asti. Mendengar suara Mas Danar rasanya nyaman. Setelah ngobrol dengan mereka berdua, hatiku terasa lebih tenang. Entah kenapa, meski kecewa tapi aku merasa tenang. Kini aku mulai ikhlas menerima semua kenyataan ini. Aku harus tetap bersemangat menjalani hidup ini.

            Pena telah mengubah hidupku. Dari goresan pena pula aku mengenal sosok luar biasa seperti Asti. Dengan motivasinya, aku bisa mengukir namaku dengan tinta emas dan tentu saja, mengenal sosok yang luar biasa lainnya, Mas Danar. Terima kasih Asti. Terima Kasih Mas Danar. Terima kasih atas motivasi kalian. Terima kasih pula buat penaku, yang selalu menemaniku. Mulai saat ini, impianku adalah akan aku ubah dunia dengan pena.

            Yogyakarta, 16 April 2011 01:23

April 29, 2011 - Posted by | cerpen

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: