Mush'ab Zahra Blog

Inspirasi Hidup

Kisah Dibalik Layar “Majalah Edisi 1”

Hari itu hari Rabu. Kami bertiga berlarian tak jelas memperjuangankan sesuatu yang kami impikan. Tampak konyol, dan mungkin akan banyak yang menertawakan ulah kami. Yap, aku, eR dan ardita sibuk mengurus proposal majalah edisi perdana ke takmir masjid. Hari itu aku nggak menyangka bahwa eR benar-benar telah menyelesaikan proposal. Proposal dadakan. Bahkan tak pernah terlintas di benak kami untuk berani mengajukan proposal ke takmir masjid. Entah panggilan jiwa dari mana tau-tau eR telah selesai membuat proposal itu. Dan tanpa sepengetahuanku juga namaku tercantum dalam proposal tersebut.

            Panas tak kami pedulikan. Rasa lapar yang begitu sangat tak kami hiraukan. Kami kesana kemari demi nge’print’ proposal. Sepele tapi tak bisa disepelekan. Hari itu juga kami janji untuk ketemuan dengan bapak dari percetakan, yang akan mencetak majalah perdana kami. Majalah yang telah kami impikan selama ini. Di perpustakaan, kami bernegosiasi. Dan akhirnya untuk majalah cover glossy full color cetak 700 eksemplar kami mendapat harga kira-kira satu juta lima ratus ribu rupiah!!! Bayangkan! Uang sebanyak itu harus kami cari kemana?! Kami benar-benar pasrah saat itu. Tampaknya bapak dari percetakan tahu apa yang kami pikirkan. Akhirnya beliau memberi kesempatan pada kami untuk menawar. Dan akhirnya deal Sembilan ratus lima puluh ribu rupiah. Yah,, masih bilangan yang gede. Tapi itu udah seminimal mungkin. Kami mendapat harga tersebut tapi ada syaratnya. Dua syarat yang harus kami penuhi. Kami harus mencantumkan logo percetakan di cover depan. Yah, tak masalah bagi kami. Toh yang penting majalah terbit. Tahu apa syarat yang kedua? Kami harus membuat kontrak dengan percetakan untuk cetak majalah disana minimal SEPULUH edisi!!! Kami sempat berpikir dua kali. Kepengurusan kami tinggal enam bulan lagi. belum lagi nanti kami bakal menjumpai libur lebaran yang lumayan panjang. Bagaimana bisa kami menyelesaikan kontrak sepuluh edisi dalam waktu enam bulan?! Tapi pikiran kami saat itu adalah bagaimana caranya majalah kami bisa terbit. Dan akhirnya kami terima kontrak itu. Kontrak yang mewakili tim redaksi, kami ber-delapan. Tentu saja konsekuensinya kami ber-delapan harus menyelesaikan kontrak sepuluh edisi itu.

            Setelah bernegosiasi, kami segera meluncur menghadap ketua takmir masjid. Kami ragu dan takut-takut. Tapi ternyata proposal kami disambut dengan baik. Sepertinya program kami telah ditunggu-tunggu. Dan tanpa banyak basa-basi proposal kami langsung diterima dan tinggal menunggu cairnya dana. Aku dan eR langsung berlari mencari ardita untuk mengabarkan berita bagus ini. Aku lihat dari wajah eR sangat senang dan bersemangat untuk segera menerbitkan majalah perdana ini.

            Kami segera ke kantin untuk makan. Kami baru tenang makan kalau proposal sudah beres. Ada satu yang kami lupakan! Ujian! Yah, memang saat itu kami sedang menempuh ujian akhir semester. Aku ujian jam 14.30. Dan saat itu menunjukkan pukul 14.00. dan aku belum belajar! Pemrograman Basis Data! Kuliah yang tak bisa dipandang sebelah mata. Aku makandengan cepat begitu selesai aku langsung berlari menuju ruang ujianku. Belajar kebut sepuluh menit.

            Aku mengejarkan soal ujian dengan ala kadarnya. Sebenarnya aku bisa dan paham soalnya. Tapi permasalahannya ada pada konsentrasiku. Aku tak bisa konsentrasi. Pikiranku seperti kosong atau lebih tepatnya memikirkan yang lain. Apalagi kalau bukan majalah perdana kami. Hingga akhirnya pengawas memberi peringatan pada kami peserta ujian bahwa waktu tinggal tiga puluh menit lagi. saat itu aku baru sadar, aku baru mengerjakan satu soal dari empat soal! Segera saja kukebut tiga soal dalam waktu kurang dari tiga puluh menit dengan sisa-sisa konsentrasiku.

            Hem… aku keluar ruang ujian dengan ekspresi tak jelas. Se tak jelas nasibku kemudian. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa. Aku tak sepenuhnya yakin dengan jawabanku tadi. Tapi tak apa, yang penting majalah impianku akan segera terbit! Semangat!!

            Pengalaman pertama majalah membuat kami bingung. Bingung masalah format penulisan dan penghalaman juga penglayoutan. Aku paham dan tahu kami semua sedang ujian, dan pastinya saat itu adalah puncak stress. Apalagi ini adalah ujian akhir semester yang akan menentukan nilai kita nanti. Belum lagi banyak project yang harus diselesaikan. Sempat Ar dan ardin menghilang. DeMasMif pun juga hilang tak ada kabar.  Tulisan mereka pun tak kunjung dikirim, dihubungi pun tak bisa. Sekali lagi aku paham, inilah puncak stress kami. Yang membuat aku menangis haru adalah di tengah-tengah ujian mereka masih bisa memikirkan majalah juga.

            Hingga Sery pun sempat sms aku, sms yang berisi curahan jiwanya yang kacau. Tampaknya dia tertekan. Katanya, dia merasa berat. Berat karena saat itu dikejar deadline majalah, belum lagi pas ujian dan project, dan seragam –proker yang di pj-in- belum kelar juga. Yah, aku paham, bahkan sangat paham. Dan itu juga aku rasakan. Tapi apa dikata, ini adalah tanggung jawab. Dan kami terikat dengan kontrak percetakan, juga kontrak denga takmir dan kontrak dengan sponsor yang beriklan di majalah kami.

            Kami juga dikejar deadline selesai cetak saat ITC. Kami semakin bersemangat menyelesaikannya. Sesaat setelah kami menyerahkan softcopy majalah kami ke percetakan, ardita selaku layouter baru sadar kalau ada sesuatu kesalahan yang fatal di majalah kami. Yakni penghalaman. Yap. Terbalik. Itu juga kesalahanku. Sebagai editor sekaligus pj, seharusnya aku bisa mengontrol dan melihat titik khilaf itu. Tapi tak apalah, toh tak begitu berpengaruh.

            Kami mengalami surplus di edisi ini. Bahkan kami bisa gathering bidang dengan sponsor majalah garnish. Kami semakin yakin ke depannya.

            Hingga tiba hari yang telah kami tunggu-tunggu. Hari dimana majalah perdana kami akan diantar ke tempat kami. Setiap menit kami menunggu dengan sabar, bapak percetakan pun telah kami hubungi. Nihil. Tak ada jawaban maupun balasan. Dan hingga ba’da duhur pun majalah belum diantar. Padahal seharusnya majalah diantar hari itu pagi hari. Kami menunggu dengan sabar lagi. hingga ‘Ashar pun datang. Masih belum ada tanda-tanda majalah akan datang. Pihak panitia Maba pun mulai bertanya pada kami, ‘Majalahnya mana?” yah, majalah yang telah kami janjikan akan bisa dibagikan saat ITC.

            Kampus mulai sepi. Majalah belum datang juga. Aku dan eR duduk tak jelas di depan pintu gedung 2. Wajah kami tak jelas. Keceriaan berubah menjadi kengerian. Ngeri membayangkan majalah tak sampai ke tangan kami tepat waktu. Sampai Maghrib, aku dan eR duduk didepan gd 2. Dengan berat hati kami tinggalkan kampus karena hari memasuki malam.

            Sesak rasanya. Aku ingin menangis! Aku ingin mempersembahkan yang terbaik, tapi inilah jadinya. Keterlambatan terbit. Bahkan pihak percetakan pun tak bisa kami hubungi.

            Sampai pagi harinya, percetakan belum bisa dihubungi juga. Kami tak tahu bagaimana keadaan majalah perdana kami. Aku dan eR terdiam di masjid kampus. eR sudah tidak sanggup lagi telpon bapak percetakan. Dia takut emosinya meledak. Aku masih berusaha telepon percetakan. Tak ada jawaban. Rasanya aku ingin terjun dari lantai 4. Kebetulan sekali letak masjid ada di lantai 4. Lebih baik mati daripada hidup menanggung malu. Malu karena kenyataan tak sesempurna rencana kami. eR memang masih bisa ‘tampak’ cuek dengan tanggung jawabnya terhadap sponsor dll atas keterlambatan kami. Tapi tidak bagiku. Itu adalah hal yang sangat menjatuhkan citra kami. Rasanya aku sudah tidak punya muka lagi.

            Akhirnya percetakan menjawab telepon kami. Beliau berjanji mengantarnya sore hari. Yah, its ok. Daripada tidak diantar sama sekali…

April 29, 2011 - Posted by | curahan | , , , , , , , , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: