Mush'ab Zahra Blog

Inspirasi Hidup

Randy & Asti

“Saya menginginkan seorang istri yang seperti Siti Hajar,” kata seorang laki-laki berkulit putih dan bermata tajam dalam sebuah seminar ketika diberi kesempatan pembicara untuk mengungkapkan pemikirannya.

Aku tersenyum memandang laki-laki itu. Laki-laki yang mampu membuat hidupku nano-nano. Hidup yang berasa asin, manis dan asam. Laki-laki yang ingin kuubah hidupnya tapi justru dialah yang mengubahku. Mengubah aku yang dulunya suka pakai rok mini menjadi seorang muslimah yang belajar menutup aurat. Randy, dialah laki-laki yang paling berarti dalam hidupku.

Bukan, dia bukan siapa-siapaku. Kami tidak punya hubungan apapun, hanya sebatas kenalan. Yap, kami berkenalan secara tidak sengaja tiga tahun yang lalu. Aku salah masuk kelas dan dengan konyol masuk ke kelasnya. Di saat semua orang memandangku aneh, Randy yang kebetulan duduk disampingku hanya tersenyum sambil menenangkan diriku dengan mengatakan “santai saja..”.

Sejak pandangan pertama itu entah kenapa ada sesuatu yang lain dengan perasaanku ini. Aku mulai mendekatinya dan mencari informasi tentangnya dengan berbagai cara. Mulai dari temannya bahkan lewat Friendster dan juga Facebook. Tak banyak yang kudapat. Ternyata informasi tentang dirinya memang mahal. Dari informasi yang sedikit itu aku masih dapat menyimpulkan kalau dia bukan orang biasa. Sosok yang berbeda tapi justru perbedaan itulah yang menjadi pembeda. Tidak salah aku mencintainya.

Hingga suatu saat, Allah mempertemukan kami dalam sebuah komunitas. Ya, kami ada dalam satu komunitas sekarang. Aku semakin mudah mendekatinya. Tapi tak semudah yang kubayangkan. Randy adalah laki-laki yang cukup menjaga jarak dengan wanita. Bahkan dia belum pernah pacaran. Saat kutanya kenapa, dia hanya tertawa kecil sambil berkata, “Belum ada yang mau sama aku, nggak laku nih…,” . Hem, kalau dilogika, mana mungkin ada cewek yang menolak cowok seperfek dia, yang ada malah belum ada cewek yang dia mau. Aku pun sebenarnya juga belum pernah merasakan bagaimana pacaran itu. Mungkin karena aku terlalu perfeksionis dan keras kepala, hingga aku hanya menginginkan orang-orang yang kusukai menjadi pacarku. Sialnya (atau lebih tepat disebut beruntung), dari dulu orang yang kusukai tak jauh berbeda dengan Randy. Orang yang punya prinsip.

Tepat tiga tahun aku mencintai Randy tanpa ada keberanian untuk mengungkapkan perasaanku ini. Aku pendam dalam-dalam perasaanku ini. Aku mulai tahu bahwa mengungkapkan perasaan cinta pada orang yang belum halal untukku tidak baik. Kalau itu sampai terjadi mungkin akan timbul masalah baru.

Kini aku mundur satu langkah. Mundur untuk mengambil langkah yang lebih jauh lagi. Harapanku mulai putus saat seminggu yang lalu kutahu dia begitu mengidamkan wanita seperti Siti Hajar. Kenapa harus Siti Hajar? Kenapa tidak Siti Aisyah atau Siti Khadijah, sebagaimana layaknya lelaki mengidamkan wanita seperti istri-istri Rasul Muhammad tersebut… Aku tak bisa menebak jalan pikirannya. Yah, mungkin orang-orang akan menganggapku aneh juga jika mereka tahu aku mengidamkan lelaki seperti Mush’ab bin Umair, seorang sahabat Rasul. Ya, Mush’ab bin Umair, bukan Umar bin Khattab ataupun Ali bin Abi Thalib.

Aku semakin bertekad mengubah diriku untuk menjadi lebih baik. Menjadi wanita yang layak mendampingi Randy. Maka dari itu aku putuskan untuk mundur terlebih dahulu. Aku tetap memendam perasaanku ini. Memang sakit rasanya. Bahkan mungkin jika melihatnya dekat dengan wanita lain atau mungkin memasang status yang menjurus pada ‘cinta’ ,perasaan ini tak enak rasanya. Ada rasa cemburu yang menyelubung.

Seperti beberapa hari ini, yang kutahu dia mulai berani membuka tentang perasaannya di facebook maupun blog nya. Dugaanku, sepertinya dia sedang jatuh cinta sekarang. Aku nggak tahu siapa wanita yang mengusik hatinya. Yang jelas bukan aku. Aku tak masuk hitungan kriterianya. Beberapa hari ini juga aku merasa tak nyaman dan tak bersemangat. Setelah kutelusuri, mungkin penyebab utamanya adalah Randy. Aku tak dapat memungkiri kalau aku cemburu.

Kalau saja aku belum berubah dan belajar mengontrol emosiku, mungkin aku akan marah-marah, mencak-mencak dan membenci Randy. Tapi kini kusadar, apa hakku melakukan semua itu. Randy bukan siapa-siapaku. Pacarku bukan, suamiku apalagi… Atas dasar apa aku marah mengetahuinya mencintai orang lain?

Sakit dan tersiksa aku memendam perasaan ini. Ingin sekali rasanya aku mengungkapkan perasaan cintaku ini padanya. Mungkin tidak secara langsung. Aku merasa sangat kotor sekali. Jiwaku yang kotor itu semakin membuatku merasa jauh dari Randy. Harapanku semakin tipis, mungkin 0,1%. Tak apalah, paling tidak bukan 0,00%. Meski sedikit, aku masih punya kesempatan dan bermimpi menjadi pendamping hidup Randy. Yah, impian menjadi pacar Randy aku buang jauh-jauh, kini yang aku inginkan adalah menjadi pendamping hidup Randy.

Lima bulan kemudian, terdengar olehku kabar yang membuat duniaku berubah seketika. Randy mengkhitbah seorang wanita. Dan wanita itu bukan aku. Detak jantungku serasa berhenti. Aku menangis. Dadaku terasa sesak. Aku bahkan tergoda sekali untuk bunuh diri atau membunuh wanita itu. Aku sibukkan diriku dengan berbagai kegiatan. Kalaupun tidak ada kegiatan ya cari kegiatan. Setidaknya itu dapat membantuku untuk sedikit tidak memikirkan Randy. Tapi tetap saja aku tak bersemangat. Serasa ada yang hilang dalam hidup ini. Aku berusaha untuk tetap tegar dan menerima kenyataan ini. Akan aku buktikan padanya, aku bisa setegar Siti Hajar. Seperti halnya Siti Hajar yang tetap sabar ketika ditinggalkan Ibrahim di tengah padang gersang karena suaminya tersebut ingin hidup dengan istrinya yang lain, Siti Sarah. Meski itu menyakitkan, aku berusaha untuk kuat. Sampai aku menumpahkan kisahku ini dalam status Facebookku. Aku tak peduli beberapa teman curiga, yang penting tak ada yang tahu perasaanku pada Randy yang sebenarnya.

Rasa sakit ini berkelanjutan hingga 1 bulan lamanya. Randy pun hilang ditelan angin. Aku pun tak mendengar kabarnya lagi atau lebih tepatnya aku tak mau mendengar apapun lagi tentangnya dan aku tak berusaha mencari tahu bagaimana dia sekarang.

Komunikasi kami benar-benar putus sampai kami wisuda. Bahkan sampai aku bekerja pun tak terdengar lagi dimana keberadaannya. Aku pun juga tak ingin mencari tahu di Facebook. Biarkan saja, mungkin dia kini sudah bahagia dengan pilihannya.  Aku rela. Bagiku, bisa mengenal dan mencintainya itulah anugerah terindah bagiku. Dua tahun setelah kami wisuda pun aku masih belum bisa melupakannya. Tak ada seorang lelaki pun yang mampu menggantikan Randy dalam hatiku.

Kini aku bekerja sebagai manajer sebuah perusahaan swasta di Solo. Kesibukkanku kini benar-benar membuatku lupa pada Randy. Meski tak bisa dilupakan dalam hati. Hingga suatu hari, aku mendapat tugas mewakili perusahaan untuk meeting di sebuah hotel di Yogyakarta. Yah, Yogyakarta. Kota yang penuh kenangan. Di kota itulah aku mengenal Randy. Kenapa nama itu lagi yang muncul di kepalaku..

Pertemuan kali ini membahas kelanjutan kerja sama perusahaanku dengan perusahaan relasi. Aku tak sendiri. Aku ditemani dua orang temanku. Ni’mah dan Danar. Mas Danar ini sangat baik dan perhatian. Sempat terpikir olehku untuk mempertimbangkannya sebagai pengganti Randy. Memang, secara fisik, Randy lebih tampan. Tapi untuk agama, mereka seimbang. Paling tidak Mas Danar ini satu daerah denganku, yakni Semarang. Tentu saja orang tuaku akan lebih memilih Mas Danar yang asli Semarang daripada Randy yang berasal dari Bandung.

Kami menunggu manajer dari perusahaan relasi kami yang juga menjadi ketua tim yang akan menjadi wakil mereka dalam mengurus kerja sama ini. Aku paling malas dengan orang yang membuatku menunggu seperti ini. Yah, alasannya masih ada agenda lain, tapi apakah itu alasan yang cukup baik untuk membuat orang lain menunggunya.

10 menit kemudian orang yang kami tunggu datang. Aku tak peduli. Aku hanya memainkan penaku. Tiba-tiba saja Ni’mah sedikit mencubit lenganku.

“Aow… kenapa sih?”bisikku.

“Sepertinya, sepertinya aku kenal,” kata Ni’mah.

“Kenal siapa?” tanyaku heran dengan suara berdesis.

“Itu… bukankah itu…,”

Aku langsung memandang ke depan tanpa menunggu Ni’mah menyelesaikan kalimatnya. Dan… DEG. Darahku seakan berhenti mengalir. Jantungku berdegup kencang. Tubuhku menjadi kaku seketika. Aku tak percaya apa yang aku lihat. Randy. Yah, lelaki yang mengisi hatiku bertahun-tahun lamanya. Dia tersenyum padaku. Senyumnya masih sama.

Ternyata Randy lah yang menjadi wakil dari perusahaan relasi kami. Ada apa ini Ya Allah.. kenapa Engkau pertemukan kami kembali. Di saat aku sudah mulai bisa membuka hatiku untuk laki-laki lain, dan kini perasaan yang kupendam bertahun-tahun itu muncul lagi.

“Asti,” panggil Randy ketika aku hendak meninggalkan tempat meeting bersama yang lainnya setelah meeting usai. Aku menghentikan langkahku. Ni’mah tersenyum padaku, Mas Danar memandang aku dan Randy dengan curiga tapi akhirnya dia keluar duluan bersama Ni’mah.

“Tak disangka ya, kita bisa bertemu disini,” kataku tak lupa dengan senyum. Jujur, aku senang sekali dengan pertemuan kami ini meski aku sangat canggung menghadapinya.

“Iya, ya… bagaimana kabarmu?” tanya Randy.

“Ya, seperti ini,” jawabku.

“Hehe… ya siapa tahu kamu menyerah menjadi seperti Siti Hajar…,” kata Randy.

DEG. Lagi-lagi darahku seperti berhenti mengalir. Kenapa tiba-tiba Randy berkata seperti itu. Apakah dia tahu perasaanku padanya?

“Eh, ya. aku duluan, ya. Nomormu masih sama kan?” tanya Randy bersiap pergi.

“Ya,” jawabku kaku.

“Oke… sampai ketemu lagi…,” kata Randy menutup pembicaraan dan segera pergi tanpa menungguku. Ya, dia tidak berubah. Masih tetap cuek padaku.

Setelah hari itu, kami kembali sering berkomunikasi. Cintaku yang terpendam kini muncul lagi. Ya, aku tahu diri. Randy sudah berkeluarga. Dan aku tetap menjaga komunikasi kami hanya sebatas rekan kerja dan membicarakan masalah pekerjaan, tak ada yang lain. Aku tahu, cintaku ini akan sia-sia saja, aku tak akan bisa memiliki Randy untuk selamanya.

Dua minggu setelah urusan pekerjaan selesai, selesai pula komunikasiku dengan Randy. Entah kenapa aku menyayangkan hal ini. Aku memutuskan mudik ke Semarang. Fiya, sahabatku yang kini bekerja di Yogyakarta berkunjung ke kontrakanku di Solo dan dengan semangatnya mengajakku mudik ke Semarang. Aku tak ada rencana mudik minggu ini, tapi Fiya memaksaku. Mas Danar menawarkan pada kami untuk pulang bersamanya dengan mobil barunya.

Ahad pagi yang cerah, aku mencoba untuk merefresh pikiranku. Aku membaca majalah di ruang tamu dan saat itu juga ada sebuah mobil Jazz putih berhenti tepat di depan rumahku. Dan tahu siapa yang keluar dari mobil itu? Randy.

Yah, Allah Maha Tahu. Dia pulalah yang membolak-balikkan hati seorang. Allah yang menjawab doa hamba-hambaNya. Maksud kedatangan Randy ke rumahku ternyata adalah untuk melamarku. Yah, melamar untuk dijadikan istrinya. Aku merasa bodoh sekali dan malu dengan diriku sendiri. Berita Randy telah mengkhitbah dan menikah dengan wanita lain beberapa tahun yang lalu, semua itu adalah bohong. Randy tak pernah mengkhitbah siapapun apalagi menikah dan akulah wanita pertama dan terakhir yang dilamarnya. Lalu, buat apa aku menangis berhari-hari merasakan kepatahhatianku dulu? Benar-benar konyol…

Dan ternyata, selama ini Fiya sudah tahu rencana Randy. Ah… aku merasa sangat malu dengan siapapun saat ini. aku benar-benar tak menyangka, bahwa hari ini tanggal 13 Februari 2013 aku akan sah menjadi Nyonya Randy. Aku memandangi dekorasi pesta pernikahan kami. Tertulis Asti & Randy – 13-02-2013. Aku tak bisa menahan air mataku saat semua orang yang menjadi saksi ikatan kami berkata “SAH”.

Saat aku dan Randy berada dalam satu kamar untuk pertama kalinya, aku bertanya padanya sebuah pertanyaan yang mengganjal hatiku selama bertahun-tahun ini.

“Suamiku, aku mau tanya sesuatu,”

“Apa, istriku?” sambutnya dengan lembut.

“Kenapa kamu memilih Siti Hajar sebagai kriteriamu? Kenapa bukan Siti Aisyah? Atau Siti Khadijah?”

Randy tersenyum. “Karena ketegarannya. Siti Hajar yang sangat taat pada suaminya dan ibu yang benar-benar menjadi umi untuk anaknya. Hingga kisahnya diabadikan dalam rukun dan wajib haji, yakni Sa’i,”

Jawaban yang sebenarnya aku sudah tahu. “Kalau begitu, mulai detik ini aku akan berusaha menjadi Siti Hajar-mu,”

Enam tahun berlalu.

Aku dan Randy membeli rumah di Solo. Kami pun menetap disana bersama anak-anak kami. Yah, Alhamdulillah, kami telah dikaruniai dua orang anak yang lucu-lucu. Kami beri nama dua anak kami Mush’ab dan Zahra.

Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang engkau dustai??

March 15, 2011 - Posted by | cerpen | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

1 Comment »

  1. ketoe gak pake kaca mata deh??
    :p

    Comment by mushabqwirtun | May 24, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: