Mush'ab Zahra Blog

Inspirasi Hidup

Sejarah Lahirnya Minimagz Garnish

Inilah aku, Eyna Right. Kebetulan sekali aku ditakdirkan menjadi seorang pj/penanggung jawab program bulletin di bidang media informasi dalam sebuah organisasi di kampus. Hemm… entah kenapa aku yang kejatuhan tugas penanggung jawab bulletin yang kupikir seharusnya berada di tangan orang-orang yang memang ‘tahan banting’.

Tapi biar bagaimanapun juga harus aku akui kalau menjadi pj bulletin adalah impianku. Impian kenapa aku masih bertahan di bidangku saat ini. Sejak SMA aku tertarik sekali dengan yang namanya ‘penerbitan’. Hingga saat aku kelas X aku masuk sebuah organisasi di SMA ku, dan mengincar bidang Media. Tapi apa dikata, aku ditolak dan masuk ke bidang lain. Aku sangat kecewa saat itu. Aku masih belum menyerah, saat kelas XI lagi-lagi aku mengincar bidang media saat regenerasi pengurus. Dan tahu apa yang terjadi? Aku ditawari menjadi ketua bidang Media! Yap, jabatan yang cukup menggiurkan. Aku mendapat kesempatan emas itu bukan karena aku mampu dalam bidangnya tapi karena tak ada yang lain dan kebetulan sekali aku termasuk pengurus yang aktif dan tertarik dengan media. Tapi karena ada satu hal dengan lainnya, akhirnya aku menjadi sekretaris umum. Gila!!! Aku seorang yang tak bisa apa-apa diberi amanah sebesar itu! Jabatan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Temanku seorang ikhwan yang kebetulan sekali menjadi sekretaris 1 memintaku untuk tetap ada di sekretariatan saat aku bilang padanya untuk mundur dan aku memilih bidang media. Alasannya kenapa memintaku di sekretariatan saja kerana biar koordinasi dan komunikasi lebih mudah aja. Entah kenapa Allah menggerakkan hatiku untuk tetap di sekretariatan dan meninggalkan bidang media yang kuimpikan selama ini. Jadilah aku, sekretaris yang tak becus… memang, aku tak berjodoh dengan Media.T_T

Selama satu tahun kepengurusan, aku sering bantu-bantu bidang takmir dan media mengurus perpustakaan masjid. Di sana aku lebih enjoy dibanding harus menjadi sekretaris yang kerjaanku tiap pekan adalah membuat undangan rapat dan juga menyebarkannya pada tiap pengurus. Selain itu, mencatat hasil rapat adalah kegiatan rutinku. Padahal pelajaran sekolah pun aku tak pernah mencatat.

Hingga akhirnya, suatu hari temanku, sebut saja Grey menawariku untuk bergabung dalam jajaran tim redaksi sebuah majalah forum SMA se-kabupaten. Dia memintaku menjadi editor. Karena saat itu katanya posisi itu masih kosong dan tak ada yang mengisi. Aku sempat ragu. Aku tak percaya dengan diriku sendiri. Aku bukanlah pengurus dari organisasi forum SMA se-kabupaten itu tapi aku langsung meloncat masuk jajaran redaksi majalah dan menduduki posisi penting. Apakah aku bisa?! Aku tak ada pengalaman dalam hal seperti itu. Tapi akhirnya setelah dipikir busuk-busuk, akhirnya aku memutuskan untuk menerima tawaran dari temanku tadi. Yap. Menjadi editor sebuah majalah yang akan dibaca anak-anak SMA se-kabupaten. Aku sempat takut, apa aku yang tak ada pengalaman dalam bidang ke-media-an bisa melaksanakan tugasku dengan baik. Tapi aku tetap terus berpikiran, inilah awal hidupku. Kalau aku tak pernah mencoba, kapan aku punya pengalaman. Siapa tahu pengalamanku ini berguna dalam hidupku yang akan datang.

Awalnya aku sedikit keteteran dengan tugas menjadi editor. Bagaimana tidak? Tak kusangka, ternyata aku harus bekerja dikejar deadline. Yang paling menjengkelkan adalah jika tulisan dari reporter tak kunjung sampai di tanganku, padahal dari pihak layout sudah menunggu kiriman artikel fix dari ku. Meski melelahkan, tapi aku menyukainya. Dan aku tahu sekarang, aku tidak akan punya pengalaman di bidang yang aku impikan itu kalau saja aku tak mencobanya.

Setelah lulus SMA, aku tak ada urusan lagi dengan majalahku yang telah memberiku pengalaman yang berharga. Bahkan aku tahu kabarnya saja tidak. Betapa durhaka nya diriku…T_T.

Saat kuliah, aku masuk sebuah organisasi. Organisasi yang bergerak dalam dakwah Islam. Yap, tak salah dan tak bukan, Unit Kerohanian Islam. Gila!!! Orang sebejat aku bisa-bisanya masuk lembaga dakwah! Mungkin semut pun akan menertawakanku. Eitss… jangan salah, organisasi SMA yang kuceritakan dari tadi itu juga bergerak dalam bidang dakwah lho… Rohis. Lebih tepatnya Romansa –Rohis SMAN 1-. Majalah yang telah memberiku pengalaman tadi juga ada di bawah bidang sebuah organisasi forum silaturahim Rohis SMA se-Kabupaten!.

Meski aku mantan aktivis dakwah sekolah, tak akan ada yang menyangka kalau aku ini aktif di Rohis SMA. Teman-teman di –sebut saja- Jashtis pastinya mengira aku pendatang baru dalam dunia dakwah. Di mentoring pun aku masuk dalam kelompok baru, meski aku di SMA pun juga telah mengikuti mentoring. Tapi aku lebih enjoy disebut pendatang baru. Yap, penampilan dan juga sikapku memang tak mencerminkan bahwa aku ini aktivis dakwah. Jujur saja, aku memang amphibi. Hidup di dua alam yang berbeda. silakan antum renungkan sendiri apa maksud ane…^_^.

Emm… sejujurnya, niat awal aku masuk Rohis SMA bukan karena aku ingin berdakwah. Tapi karena bulletin. Karena media. Aku tertarik dengan bulletin terbitan Rohis SMA ku. Aku masuk LDK juga bukan karena 100% dakwah, lebih tepatnya karena kesasar dan juga berat meninggalkan jejak-jejakku di dakwah sekolah. Bukan lagi karena bulletin ataupun majalah. Organisasi ku saat ini tak punya bulletin yang menarik perhatianku. Kalau bisa aku bilang, bulletin SMA ku lebih keren. Jauh lebih keren malah…

Aku tertarik masuk dalam bidang keilmuan. Bidang itu belum pernah aku dengar. Kelihatannya menarik dan keren. Dan aku bersemangat ingin masuk bidang itu. Saat itu juga tak terpikirkan olehku untuk mengejar bidang Media lagi. selamat tinggal media. Aku akan menempuh hidup baruku di bidang yang baru itu. ^_^

Tahu apa yang terjadi? Saat pengumuman pengurus, aku tak menemukan namaku di bidang keilmuan yang aku inginkan tadi. Aku kecewa. Lebih kecewa lagi, aku menemukan namaku di jajaran staff bidang Media dan Informasi!! Bidang impianku jaman SMA. Tapi menjadi bidang yang tak kusukai saat kuliah karena ada yang lain yang lebih menarik hatiku. Aku kesal dan terbersit di pikiranku untuk keluar mengundurkan diri.

Tapi Allah memang lebih tahu apa yang terbaik untukku. Saat itu aku masih berpikir dimana letak baiknya? Di Bidang Medinfo, aku diamanahi mengurus mading. Sumpah, aku benar-benar tak bisa! Aku merasa tertekan sekali. Beberapa kali aku menangis karena merasa tak kuat di bidang yang memang ‘sulit’ itu.

Hingga suatu hari, saat rapat biro syiar, tepatnya pas membahas bulletin aku sedikit bersemangat. Ketua biro ku saat itu mengusulkan akan membuat majalah sebagai ganti bulletin meski hanya satu kali kepengurusan. Aku orang pertama yang menyetujuinya. Semangat tarungku kembali muncul. Apalagi saat dia bilang bagaimana kalau majalah kita buat mini. Majalah mini atau istilah kerennya adalah minimagz. Lagi-lagi aku orang pertama yang setuju. Tapi sambutan yang lainnya tak semeriah sambutanku. Tampak yang lainnya masih belum bisa membayangkan seperti apa bentuk minimagz. Dan semangatku menurun, ketika aku tahu keadaan keuangan organisasi kami. Yap, tak sekaya SMA ku. Darimana kami bisa membuat majalah dengan keadaan keuangan yang tak memadai. Yang jelas untuk pembuatan majalah, kami akan menghabiskan lebih dari tiga ratus ribu.T_T.

Program itu pun tak jalan di kepengurusan kami. Aku merasa tak berguna dan tak ada artinya di organisasiku saat ini. Terbersit dalam pikiranku untuk keluar tahun depan. Yah, aku mantap untuk keluar dari organisasiku ini. Karena aku merasa tak dianggap. Tak ada hal lain yang aku lakukan selain mengurus mading yang update dua kali sebulan. Sangat membosankan! Di saat teman-temanku sibuk di kepanitiaan ini itu, aku tahu infonya saja tidak. Bayangkan! Aku di media informasi tapi selalu ketinggalan info! Aku juga ingin dianggap! Aku juga ingin berbuat sesuatu yang berguna untuk organisasi ini! Aku juga ingin orang tahu kalau aku ini ada! Aku benar-benar marah, putus asa, kecewa dan juga sedih. Tak ada pilihan lain, aku mantap keluar di kepengurusan depan.

Saat di akhir kepengurusan, akhirnya ada teman yang menganggapku ada dan mengajakku bergabung dalam kepanitiaan expo ukm. Inilah kegiatan pertama ku bersama teman-teman dari bidang lain. Sumpah! Ternyata aku memang tak kenal dan tak tahu ikhwan dari bidang lain. Hingga kemudian, aku menjadi panitia di idul adha juga. Kali ini aku ada di Pubdekdok. Bayang pun, aku belum pernah memegang amanah itu dan begitu pertama aku pegang aku langsung diamanahi menjadi coordinator akhwat. Berat memang. Gara-gara ini juga aku menangis sehari semalam tak keluar dari kamar karena satu hal yang sepele. Kamera. Itu menjadi sejarah kenapa aku beli camdig. Aku benar-benar merasa kalau aku ini dianggap. Sejenak aku lupa niatku untuk keluar. Saat mubes pun lagi-lagi aku menjadi panitia juga. Semakin lupa aku untuk meninggalkan organisasiku sekarang. dan aku pun merasa semakin mengenal organisasiku.

Saat itu juga impian yang lama kupendam dan kukubur rapat-rapat dalam hatiku kembali muncul ke permukaan. Minimagz. Satu kata yang akan membuat sebuah perubahan. Entah kenapa niatku untuk keluar dari organisasi berubah menjadi semangat yang menggebu untuk masuk bidang Medinfo lagi di kepengurusan depan. Sebenarnya aku malu. Malu karena orang sebejat aku tak pantas menjadi pengurus lembaga dakwah kampus. Tapi impianku hanya satu, tak ada yang lain. Yaitu AKU INGIN MELIHAT JASHTIS MENERBITKAN SEBUAH MAJALAH. Majalah pertama sepanjang sejarah Jashtis.

Aku bersemangat sekali ikut tes wawancara. Dengan tegas aku bilang “Aku ingin masuk Medinfo, nggak mau yang lain”. Saat itu aku ditawari bagaimana kalau aku dimasukkan saja di bidang keilmuan, bidang yang aku impikan satu tahun yang lalu, biar aku tidak bosan di media. Sekali lagi aku jawab “Tidak. Aku hanya mau Medinfo. Karena aku punya rencana untuk Medinfo,”

Jadilah aku masuk Medinfo. Dan tahu siapa ketua bidangnya? Seorang yang aku takuti selama ini. Sebut saja eR. Hemm… tapi seiring berjalannya waktu, ternyata kami sedikit cocok juga. Aku sedikit ragu dengan susunan staff medinfo saat itu. Staff yang aku kenal hanya dua. Lainnya aku nggak tahu siapa. Apakah aku bisa mewujudkan impianku?! Karena impian itu tidak akan terwujud tanpa tim yang solid.

Saat ketua bidang memberi kuisioner pada kami tentang medinfo di mata kami serta harapan-harapan kami di medinfo, aku tuangkan semua yang aku inginkan saat itu. Aku hanya ingin medinfo konsentrasi pada tiga media utama. Yaitu, mading, web dan bulletin. Aku tak ingin medinfo seperti tahun kemarin yang konsentrasi ke PSDM. Karena menurutku, pada dasarnya medinfo itu adalah media dan informasi yang sudah seharusnya konsentrasi pada media bukan event.

Sempat terpikirkan olehku untuk mengubur kembali impianku menerbitkan sebuah majalah. Tidak majalah tak apa, paling tidak bisa menerbitkan bulletin A4 dua bulan sekali itu sudah termasuk prestasi. Karena aku sadar dan tahu keadaan keuangan organisasi kami. Yang hal itu mustahil untuk membuat sebuah majalah yang mungkin akan menghabiskan lima ratus ribu. Sebagai pj bulletin, aku ditantang dan ditanyai Kabid, bagaimana bulletin seharusnya. Ternyata kabid punya pemikiran sama denganku, yakni menerbitkan sebuah majalah. Paling tidak dua kali dalam satu tahun kepengurusan. Mungkin itu akan menjadi majalah pertama di organisasi kami. Aku semakin suka dengan kabid yang paham apa yang aku inginkan tapi tak berani aku sampaikan. Seolah-olah Allah telah menjodohkan kami.

Aku sampaikan apa yang mengganjal pikiranku. “Bagaimana dengan biaya cetak majalah”. Dengan tenang kabid menjawab permasalahanku. “Cari iklan”. Hah??? Iklan?? Sama sekali tak terbayangkan olehku. Bagaimana aku bisa? Dan bagaimana caranya? Benar-benar hal mustahil. Tapi aku terima masukan itu. Meski dalam hatiku berontak, “Aku tak mau cari iklan”. Aku tak tahu bagaimana caranya menawarkan space iklan pada sebuah bidang usaha.

Hingga hampir di pertengahan kepengurusan, majalah tak juga terbit. Aku masih bingung mau dibuat seperti apa dan darimana dananya. Kabid bilang “Buat bulletin yang agak mewah sedikit. Pakai kertas glossy”. Nah lhoh… berarti akan sangat mahal! aku semakin pusing memikirkannya. Dan akhirnya aku ungkapkan keinginanku untuk membuat minimagz. Majalah mini seperti majalah saat aku SMA. Paling tidak aku ada pengalaman di bidang itu. Apa salahnya mencoba? Dan sambutan dari teman-teman yang sekarang masuk jajaran tim redaksi, begitu antusias dan mendukung program itu. Bahkan sangat mendukung. Aku senang sekali dengan tanggapan mereka. Aku juga senang sekali dengan Kabid yang mati-matian membantuku mewujudkan program itu.

Rencana Allah memang indah. Tak terpikirkan oleh kami sebelumnya kalau kami akan dipertemukan dengan teman-teman seperjuangan media di UII Ekonomi. Di UII mereka telah sukses menerbitkan majalah di kampus mereka. Dari mereka, kami belajar banyak tentang majalah. Bagaimana cara cari iklan, pemrosesan hingga cetak. Dan kami pun juga diperkenalkan dengan sebuah percetakan dimana mereka biasanya mencetak majalah mereka. pokoknya kami dapat banyak ilmu dari UII. Terima kasih Sintaksis…

Pertanyaan kami selama ini terjawab sudah. Dengan gerak cepat kami susun tim redaksi dan juga konsep majalah. Akhirnya aku putuskan untuk membuat majalah mini. Kenapa majalah mini? Kenapa tidak seperti UII? Itulah yang akan menjadi pembeda. Aku tak ingin sama persis dengan UII. Lagian impianku adalah minimagz. Lebih mini dan lebih mudah dibawa.

Sempat kami bingung menamai majalah kami. Awalnya kami menggunakan nama bulletin lama kami, Ash-Shohwah. Tapi kata kabid, namanya kurang menjual. Dan setelah dipikir dan direnungkan busuk-busuk, maka jadilah Garnish. Aku ingat betul, kami memutuskan memberi nama yang diusulkan kabid itu pada hari Sabtu sekitar jam setengah dua belas di kantin.  Sejak saat itulah majalah kami beri nama MINIMAGZ GARNISH.

Hal mustahil dan tidak mustahil itu bergantung pada tekad seseorang. Kami punya tekad menerbitkan majalah, dari situlah hal yang mustahil menjadi sebuah sejarah yang tak terlupakan. Inilah tantangan terbesar kami. Mengubah hal yang tadinya mustahil menjadi sebuah kenyataan yang memaksa setiap orang untuk percaya dan membuka matanya bahwa majalah bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Dan inilah impianku. Impian melihat Jashtis menerbitkan sebuah majalah kini telah terwujud. Meski untuk mewujudkannya kami harus melalui jalan yang berduri dan diterpa badai yang mengombang-ambingkan  kami. Tapi itulah tekad dan impian.

Rencana Allah akan selalu lebih indah dari rencana kita. Di saat aku ingin menjadi staff bidang Media, tapi Allah memberiku amanah sekretaris umum. Di saat aku ingin menjadi tim redaksi bulletin SMA, tapi Allah memberiku amanah menjadi editor di sebuah Majalah berskala SMA se-Kabupaten. Di saat kami ingin menerbitkan majalah dua kali setahun, tapi Allah menggerakkan kami untuk menerbitkan majalah satu bulan sekali…..

 

 

Klaten , 5 Desember 2010 ,  23.10

December 8, 2010 - Posted by | curahan | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: