Mush'ab Zahra Blog

Inspirasi Hidup

JTAD part 3

Sementara itu di negeri Jodhipati,

“Bah!!! Kurang Ajar!!! Bocah Tak Tahu Diri! Menghilang tanpa kabar, tahu-tahu dia menjadi raja Ngastina!! KURANG AJAR!! Moral bejat!! Tak sepantasnya sebagai putra mahkota Jodhipati berkhianat seperti itu!! Mengabdi di negeri musuh!! Pengkhianat bangsa!” Raden Arjuna, tak lain adalah ayah Jaka Tarub sekaligus raja Jodhipati marah besar. Emosinya meledak. Apapun yang berada didekatnya tak akan selamat.

Raden Arjuna pun mengutus orang kepercayaannya untuk menyampaikan surat Pemutusan Hubungan Kekerabatan kepada Jaka Tarub di Ngastina. Raden Arjuna benar-benar marah besar dan keputusannya pun tak dipikirkan ulang.

Sementara itu di Ngastina,

Jaka Tarub tak habis pikir, kenapa hari-hari yang seharusnya menjadi rangkaian honey moon justru dihabiskan untuk mengurus urusan kenegaraan sehubungan dengan pengangkatan dirinya sebagai raja baru. Di tengah kesibukan itu, datanglah Yuyu Kangkang utusan dari Jodhipati yang mengantarkan surat PHK (Pemutusan Hubungan Kekerabatan).

Jaka Tarub menyambut Yuyu Kangkang dengan penuh suka cita. Tapi wajah suka cita itu berubah menjadi duka cita begitu dia membaca surat Pemutusan Hubungan Kekerabatan tersebut. Dia juga diminta untuk segera mengembalikan Id Card nya. Dengan begitu dia bukan lagi putra mahkota Jodhipati bahkan pangeran Jodhipati pun bukan.

“Paman, biarlah aku sendiri yang menghadap ayahanda di Jodhipati. Biar aku sendiri yang akan menjelaskan duduk perkara yanng terjadi,” kata Jaka Tarub pada Yuyu Kangkang.

Yuyu Kangkang pada awalnya keberatan. Tapi dia menyanggupinya karena Jaka Tarub terus mendesaknya.

Jaka Tarub segera menuju ke kamarnya dan menemui istrinya, Bawang Putih. Dia menceritakan segala kesedihannya pada istrinya. Kemudian dia mengajak istrinya untuk menemui ayahandanya di Jodhipati keesokan harinya.

Keputusan Jaka Tarub untuk pulang ke negerinya ditentang keras oleh ayah mertuanya dan juga semua pejabat negara.

“Negara belum stabil. Kita baru saja regenerasi. Tak seharusnya kamu meninggalkan negeri dan juga rakyatmu untuk kepentinganmu sendiri,” nasehat Sang Patih.

“Tapi aku harus meluruskan masalah pada ayahanda di Jodhipati, paman Patih,” kata Jaka Tarub bersi keras.

Akhirnya Jaka Tarub dan Bawang Putih pun ikut Yuyu Kangkang kembali ke Jodhipati dengan dikawal beberapa pengawal dari Ngastina.

Sesampainya disana, Raden Arjuna menyambutnya dengan tak enak hati. Emosinya masih menguasai dirinya.

“Maafkan Jaka, Ayah… ananda tak bermaksud mengkhianati negeri ini. ananda hanya ingin menikahi Bawang Putih tapi ternyata ananda diangkat raja beserta rakyat setempat menjadi raja disana,” jelas Jaka Tarub.

“Ya sudah. Semuanya sudah jelas. Kenapa kamu masih disini? Kamu bukan lagi pangeran negeri ini. Kamu adalah raja Ngastina. Pulanglah ke negerimu dan tak usah kembali lagi kesini,” kata Raden Arjuna tanpa memandang Jaka Tarub sedikit pun.

“Ayahanda, maafkan ananda! ananda tak bermaksud meninggalkan negeri ini. ananda berharap bisa memerintah dua negeri ini sekaligus. Menyatukan negeri yang berlawanan menjadi satu,” kata Jaka Tarub.

“Heh,, memerintah dua negara?! Kamu memerintah dirimu saja tak becus, mau memerintah dua negara. Aku tak sudi Jodhipati bersatu dengan Ngastina. Ngastina cuma mau memanfaatkan Jodhipati untuk menuju kejayaannya. Kamu pikir aku bisa tertipu dengan hal macam persatuan umat seperti itu?! Kamu salah! Apapun yang akan kamu lakukan, aku tak sudi menyerahkan Jodhipati pada Ngastina. Mulai detik ini kamu tak berhak lagi atas Jodhipati karena kamu bukan siapa-siapa lagi disini,” kata Raden Arjuna menusuk hati Jaka Tarub.

“Tak ada kah kesempatan untuk Ananda untuk menebus kesalahan ananda? Itu sama saja menjatuhkan harga diri ananda atas nama Jodhipati kalau sampai ananda mengundurkan diri sebagai raja Ngastina. Dan tentu saja ayahanda raja Ngastina tak akan merestui hubungan ananda dengan istri ananda, Bawang Putih,” kata Jaka Tarub melas.

“Kamu pikir aku peduli? Kamu anak durhaka. Durhaka pada orang tua dan juga negara. Kamu meninggalkan negaramu dan menentang orang tuamu sendiri demi kepentinganmu sendiri,” kata Raden Arjuna pedas.

“Tidak seperti itu, ayahanda,”

“Baik, kutanya sekali lagi kamu, tinggalkan istrimu dan juga Ngastina dengan begitu kamu masih menyandang putra mahkota Jodhipati. Atau kamu pilih sebaliknya?” tanya Raden Arjuna sekali lagi. Raden Arjuna membuat pilihan yang sangat berat untuk Jaka Tarub.

“Ayahanda, sungguh ananda tidak bisa memilih. Ananda tidak bisa meninggalkan istri ananda, tapi juga tidak bisa meninggalkan negeri ini,” jawab Jaka Tarub penuh kebimbangan.

“Baiklah. Pergi kamu dari sini. Dan jangan pernah kembali lagi,” kata Raden Arjuna.

“Ananda akan tetap mengabdi pada negeri ini ayahanda,”

“Kamu tak pantas menyebut Jodhipati ini negerimu lagi. Kamu anak durhaka!!! Pergi kamu dari sini! Aku tak mau melihatmu lagi!” bentak Raden Arjuna yang memang sudah sakit hati.

Jaka Tarub tak punya pilihan lagi. Dia segera meninggalkan Jodhipati beserta istrinya kembali ke Ngastina. Hatinya hancur. Sakit. Remuk.

JJJ

August 6, 2010 - Posted by | novel | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: