Mush'ab Zahra Blog

Inspirasi Hidup

Sayembara Cerdas Cermat (JTAD part 2)

Akhirnya GathotKaca mengantarkan Jaka Tarub sampai di Ngastina. Setelah sampai di atas Ngastina, Jaka Tarub dilempar hingga mendarat tepat di tempat pendaftaran peserta sayembara cerdas cermat kerajaan Ngastina.

Setelah mendapatkan tanda peserta, Jaka Tarub segera mencari tempat peristirahatan sementara. Karena dia tidak punya sanak saudara, maka diputuskannya untuk mencari hotel yang dekat dengan tempat test. Hampir semua kamar hotel penuh dengan manusia yang akan menjadi lawannya esok hari. Hingga akhirnya dia menemukan hotel bulan lima. Ternyata sistem pembayaran di hotel tersebut adalah pra bayar. Mau nggak mau Jaka Tarub menggunakan kartu kreditnya lebih awal.

Keesokan harinya Jaka Tarub pergi ke tempat sayembara. Dengan sepenuh tenaga dan pikiran Jaka Tarub mengerjakan test tertulis cerdas cermat dengan cepat. Semangat untuk menangnya sangat tinggi karena dia ingin menjunjung tinggi kemenangan atas nama Jodhipati. Dia tidak ingin negerinya yang makmur dan berteknologi tinggi dilecehkan negeri lain hanya karena makhluk-makhluknya berintelektual rendah.

Setelah ishoma, tibalah saatnya pengumuman hasil test tertulis cerdas cermat dalam rangka penyaringan manusia berintelektual tinggi demi kemajuan bumi ini. Dari beratus-ratus ribu makhluk yang mendaftar, terpancinglah 5 makhluk bayangan hitam. Kelima makhluk tersebut adalah Pangeran Sangkuriang, Raden Inu Kertapati, Prabu Singabarong, Panji dan satu lagi tak lain lagi adalah Jaka Tarub sendiri.

Test selanjutnya adalah interview. Dari hasil interview ternyata diantara kelima makhluk bayangan hitam tersebut hanya ada dua manusia yang berkualitas tinggi. Dua manusia tersebut adalah Pangeran Sangkuriang dan Raden Inu Kertapati. Dengan amat sangat menyesal Jaka Tarub menangisi kegagalannya. Dia gagal menjadi orang yang hebat. Gagal menjunjung tinggi harga diri negeri Jodhipati tercinta.

Raja Ngastina bingung memutuskan siapa yang lebih unggul dalam prestasi dan luhur dalam budi pekerti. Karena kebimbangan ini, patih Ngastina mengusulkan agar dibuka polling SMS untuk memilih salah satu diantara mereka berdua. Biarlah rakyat yang memilih sendiri siapa yang pantas menyandang gelar The Winner.

2 hari berlalu dan akhirnya polling SMS ditutup. Kini tinggal menunggu pembacaan hasil polling. Dengan berat hati Jaka Tarub ikut hadir di alun-alun untuk melihat siapa yang menang. Rakyat pun berdesakan sambil berbisik-bisik meramalkan siapa yang akan menang dan muncul sebagai calon pemimpin mereka.

Tibalah saatnya pembacaan hasil polling oleh raja Ngastina. Raja membuka amplop yang berwarna hitam itu. Raja terlihat agak heran dengan isi amplop itu. Kemudian raja bertanya pada patih untuk memastikan kebenaran isi amplop tersebut. Sang patih mengangguk.

“Memang seperti itulah kiranya hasil pendapat rakyat. Kiranya semua itu murni hasil nurani rakyat. Kiranya kita tak bisa memanipulasi hasilnya. Apalah kata orang, tapi memang seperti itulah hasil yang sebenarnya, Baginda Rajaku,” jelas sang Patih. Sedangkan dua kandidat, Pangeran Sangkuriang dan Raden Inu Kertapati, berdebar-debar menunggu hasilnya.

“Tapi bagaimana kalau kita dikira tidak adil,” kata Raja Ngastina sambil berbisik pada Sang Patih.

“Tak apalah, Baginda. Peduli amat, amat saja tak peduli. Yang penting memang itu hasilnya,” kata Patih mantap.

Raja Ngastina manggut-manggut. Bawang Putih heran juga dengan sikap ayahnya. Sambil sesekali dia melirik Pangeran Sangkuriang yang kemudian juga balas memandang Bawang Putih yang keduanya lalu tersenyum tersipu. Nampaknya Bawang Putih telah jatuh cinta pada Pangeran Sangkuriang. Dia sangat berharap apapun yang terjadi Pangeran Sangkuriang haruslah menang dan menjadi suaminya.

“Ehem-ehem… mohon perhatian wahai rakyatku! Seperti apa yang kalian ketahui, hari ini adalah pengumuman pemenang sayembara cerdas cermat. Siapa pun dia yang keluar menjadi pemenang, dia berhak menjadi suami putriku satu-satunya, Bawang Putih, dan dia juga akan menggantikanku memimpin negeri kita tercinta ini. Ketahuilah, Hai Rakyatku, hasil ini adalah murni pilihan kalian semua atau bahkan pilihan rakyat di dunia akhirat tanpa rekayasa sedikit pun. Dalam kesempatan ini, maka kami putuskan, pemenangnya adalah….. JAKA TARUB!!!” seru Raja.

Semua orang yang mendengar keputusan itu saling pandang tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Bahkan Raden Inu Kertapati sudah bersiap mengadakan serangan besar-besaran.

Jaka Tarub pun bingung dengan keputusan sepihak ini.

“Saya harap yang marasa bernama Jaka Tarub segera naik ke panggung ini,” kata Raja lagi.

Tanpa pikir panjang Jaka Tarub langsung naik ke panggung berhadapan dengan Raja Ngastina. Semua mata tertuju pada Jaka Tarub. Tampak sebagian rakyat terpesona dibuatnya. Tapi ada sebagian yang mencelanya.

Raden Inu Kertapati tidak terima dengan keputusan ini.

“Apa-apaan ini! Sayembara macam apa ini?! Kemarin telah diputuskan bahwa aku dan Sangkuriang yang unggul, dan diantara kami berdualah yang akan menjadi pemenang. Tapi bagaimana bisa pemuda yang jelas-jelas telah gugur ini bisa keluar menjadi pemenang. Dimana letak harga diri Ngastina! Kalau masalah seperti ini saja kalian tak bisa sportif!” tentang Inu Kertapati.

“Tenang dulu,.. kami bisa jelaskan. Pada awalnya kami sendiri juga heran kenapa suara terbesar justru Jaka Tarub ini. Tapi memang inilah hasil yang telah rakyat pilih,” jelas Raja Ngastina.

“Tidak bisa begitu! Aku mau diadakan polling ulang!” protes Inu Kertapati.

Pangeran Sangkuriang diam saja. Dia masih tak percaya kalau dirinya bisa dikalahkan oleh Jaka Tarub. Impiannya untuk menikahi Bawang Putih pun hilang sudah. Punah.

“Tidak ada polling ulang. Keputusan ini sudah bulat. Wahai rakyatku! Siapakah diantara kalian yang setuju bahwa Jaka Tarub dari negeri Jodhipati ini yang akan menggantikanku sebagai raja kalian sekaligus berhak menikahi putri Ngastina?!” seru Raja Ngastina pada rakyatnya.

Rakyat yang mendengar semua ini saling pandang. Dan setelah dipikir bosok-bosok, satu persatu diantara mereka mengangkat tangan pertanda kalau mereka setuju Jaka Tarub keluar sebagai pemenang. Hanya ada beberapa saja yang tidak mengangkat tangan.

“Kamu lihat sendiri kan, semua rakyatku memilih Jaka Tarub,” kata Raja pada Inu Kertapati.

“Bah!!! Lihat saja nanti! Tunggu pembalasanku!! Awas kalau tidak ditunggu!” kata Raden Inu Kertapati dengan emosi yang meluap-luap. Kemudian tanpa basa-basi lagi dia segera meninggalkan tempat kejadian perkara dan dengan pasukannya hijrah menuju ke negeri asalnya.

Jaka Tarub tidak bisa bicara apa-apa lagi. Pikirannya kacau. Kenapa dia bisa menang dengan cara yang tidak keren. Kemudian dia memandang Bawang Putih. Baru kali ini dia melihat Bawang Putih dari dekat. Benar kata GathotKaca, Bawang Putih benar-benar seorang gadis yang luar biasa cantik.

Tapi sayangnya, Bawang Putih tak menghiraukannya. Bawang Putih dan Pangeran Sangkuriang saling berpandangan sedih. Nampaknya kisah mereka seperti Romeo dan Juliet. Cinta yang tak kan pernah bersatu…

Di dalam istana yang sejuk karena ada air conditioner, Jaka Tarub menanti kedatangan Raja Ngastina untuk meminta penjelasan akan nasibnya yang menggantung ini. Hingga akhirnya Raja bersama Bawang Putih datang menghadapi Jaka Tarub.

“Selamat datang di istanaku, hai calon menantuku,” sapa Raja Ngastina. Bawang putih masih murung. Nampak di matanya kalau dia habis menangis sehari semalam. Walau begitu, tetap saja Bawang Putih masih tetap cantik bersinar.

“Begini Rajaku, saya hendak minta kejelasan apa yang seharusnya saya lakukan sebagai pemenang. Kalau saya berhak menikahi Bawang Putih, kapan pesta pernikahan kami diadakan? Saya tidak bisa menunggu lama. Karena saat ini saya sedang sibuk sekali, banyak yang harus saya selesaikan di Jodhipati,” kata Jaka Tarub tanpa basa-basi.

“Sabar dulu menantuku, sudahkah Anda menandatangani kontrak kita?” tanya Raja berbalik.

“Tentu saja,”

“Bukankah disitu semuanya sudah jelas? Atau kamu kurang jelas? Kalau begitu, biarlah Patih yang akan menjelaskannya,” kata Raja Ngastina dengan penuh wibawa.

“Pesta pernikahan kamu dengan Putri Bawang Putih akan dilaksanakan minggu depan. Bersamaan dengan itu, kamu juga akan diangkat sebagai raja Ngastina yang baru” jelas Sang Patih.

“Tunggu dulu… perjanjiannya kan saya cuma menikahi Bawang Putih. Dengan begitu masalah selesai. Kenapa harus ada pengangkatan raja segala.Saya tidak berminat menjadi raja disini. Rencana saya, setelah menikah, Bawang Putih akan langsung saya boyong ke Jodhipati,” kata Jaka Tarub tidak setuju dengan keputusan Sang Patih.

“Tapi di surat kontrak yang telah Anda tanda tangani mengatakan bahwa Anda bersedia menjadi Raja Ngastina yang baru. Kekuatan kontrak itu sangat besar. Kalau Anda melanggarnya, maka semua rakyat di dunia ini akan tahu bahwa Anda seorang pengecut dan seorang pangeran yang tidak bisa memegang janjinya sendiri,” kata Sang Patih lagi.

“Tapi bagaimana bisa saya menjadi raja di sini, kalau saya sendiri adalah putra mahkota negeri Jodhipati. Dengan kata lain, saya akan menjadi raja di Jodhipati,” jelas Jaka Tarub.

“Nah, baguslah kalau begitu. Kenapa tidak kamu gabung saja dua negeri ini sekaligus? Bukankah wilayah Ngastina akan menjadi lebih luas?” saran Raja Ngastina senang mendengar informasi Jaka Tarub.

What??? Menggabung dua negara? Apa kata dunia?? Jodhipati dan Ngastina tidak akan pernah bisa bersatu! Jodhipati adalah negeri yang mengagungkan teknologi canggih dan menjunjung tinggi kemewahan, sedangkan Ngastina adalah negerinya para cendikiawan dan menjunjung tinggi alam. Bagaimana hal ini bisa bersatu?!” tentang Jaka Tarub tidak setuju dengan saran Raja Ngastina.

“Tidak masalah, justru perbedaan itulah yang akan membuat koalisi Jodhipati dan Ngastina semakin kuat kedudukannya di mata dunia. Hingga tak akan ada lagi yang bisa menandingi kekuatan dan juga luas wilayah koalisi dua negeri besar ini,” kata Raja Ngastina enteng.

“Enak saja. Sekali tidak tetap tidak!!!” kata Jaka Tarub.

“Baiklah, coba kamu pikirkan sekali lagi. Aku jamin kamu akan berubah pikiran. Putriku akan sangat senang sekali kalau kamu menjadi suaminya dan bersedia memerintah negeri ini,” kata Raja Ngastina tenang.

Lagi-lagi Jaka Tarub seperti tersihir ketika sekali lagi memandang wajah Bawang Putih.

“Baiklah, akan saya pikirkan lagi,” kata Jaka Tarub tanpa sadar.

Semalaman Jaka Tarub memikirkan kata-kata raja siang tadi. Dan akhirnya dia telah memutuskan sesuatu yang dengan mantap akan dia sampaikan di pertemuannya besok dengan raja Ngastina. Sebelum tidur, tak lupa Jaka Tarub berdoa tapi baru mau memejamkan mata tiba-tiba saja bayang wajah Bawang Putih muncul dalam pikirannya. Apakah mungkin Bawang Putih adalah Nawang Wulan yang selama ini diimpikannya??

“Sudahkah kamu pikirkan tawaranku kemarin?” tanya Raja Ngastina keesokan harinya.

“Sudah,”

“Lalu, apa keputusanmu?” tanya Raja Ngastina lembut dengan masih menunjukkan kewibawaannya.

“Saya bersedia dan setuju dengan tawaran Raja,” kata Jaka tarub mantap.

“Aku yakin kamu akan mengatakan hal ini,” kata Raja Ngastina sambil tertawa lepas.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Setelah Jaka Tarub menikah dengan Bawang Putih, pada saat itu juga dia diangkat menjadi raja Ngastina. Berita itu telah menyebar ke penjuru dunia. Dibantu dengan teknologi komunikasi yang sangat canggih, semua personel negeri Jodhipati pun telah mengetahui pengkhianatan besar-besaran ini.

JJJ

July 17, 2010 - Posted by | novel | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: