Mush'ab Zahra Blog

Inspirasi Hidup

Cinta Limas Terpancung (part 1)

Mengukir Sejarah Penjarahan

Jam tepat menunjukkan enam lebih lima puluh satu menit tiga puluh tiga detik Waktu Indonesia Smansa. Yang berarti waktu keramat bagi siapa pun yang memasuki wilayah legendaris tersebut. Rie mengeluarkan buku paket yang baru saja dibelinya kemarin. Buku paket yang biasanya ada tunjangan peminjaman dari sekolah, kini tak ada lagi. Hal ini memang merupakan kesenjangan sosial dari berbagai kalangan. Bagaimana tidak, hampir setiap guru mengharuskan muridnya untuk memiliki buku referensi bagaimana caranya harus punya tak peduli darimana buku tersebut entah beli, pinjam, menyewa, mencuri, memalak, atau menjarah toko buku yang kebetulan kebakaran atau sengaja dibakar.

Jody yang baru saja datang langsung merebut buku Rie. Entah kebetulan atau memang jodoh, Rie dan Jody sekelas, satu bangku lagi…

“Hweh,, tak bilang-bilang kalau fisika ada PR,” kata Jody ngos-ngosan setelah berlari mengendap-endap melewati celah-celah agar tidak tertangkap basah kalau dirinya datang melebihi waktu yang ditetapkan secara sepihak atau dengan kata lain terlambat.

“Santai aja lah, kan masih jam ke-5,” komentar Rie santai dan tenang. Dia sudah terbiasa menghadapi Jody yang amburadul.

“Lhah! Sekarang pelajaran apa?! Ini buku apa lagi…,” kata Jody shock sambil membuang buku yang dipegangnya.

“Heh! Buku baru tuh… sekarang Bahasa Indonesia,” kata Rie tak terima bukunya diperlakukan semena-mena oleh Jody.

“Iya ya…. Haduh,,, kacau bener aku pagi ini,”

Pelajaran Bahasa Indonesia yang disampaikan Ibu Guru pun sama sekali tak diperhatikan Jody. Baginya pelajaran seperti itu sangat membosankan. Siapa yang peduli dengan jenis-jenis kata dan kalimat. Bagi Jody dia mau ngomong apa tak peduli jenis kata apa yang diucapkannya.

Pelajaran olah raga dan kewarganegaraan adalah mata pelajaran favorit Jody. Selain itu, Jody anggap musuh. Lhah, kebalikannya dengan Rie, Rie menganggap pelajaran olahraga dan kewarganegaraan itu tak berbobot dan tak bergizi. Memang apa gunanya olah raga diajarkan di sekolah. Buang-buang waktu dan energi. Dua jam berlalu begitu saja tanpa mendapat ilmu eksak, hanya capek yang dirasakan. Olahraga bisa dilakukan di rumah dan itu memang sudah menjadi hak dan kewajiban serta kebutuhan kita. Ngapain harus dijadikan mata pelajaran. Bisa saja olah raga dijadikan kegiatan ekstrakurikuler dan hanya yang berminat saja yang ikut.

Pelajaran pertama Bahasa Indonesia berlalu begitu saja tanpa berbekas di kepala Jody. Benar-benar di luar kepala. Yang di kepalanya adalah komik dan game. Pelajaran-pelajaran yang membosankan seperti Bahasa Indonesia, matematika bahkan fisika adalah waktu-waktu yang produktif untuk melahap sebanyak-banyaknya komik.

“Daripada baca komik, lha mbok kerjain tuh pe-er Fisika mu…,” kata Rie melihat keadaan Jody yang sudah hanyut dalam kolam komik.

“Katanya masih nanti habis istirahat,,,ya udah, nanti aja yang ngerjain. Ngapain kerjain sekarang. Aku mau nyalin kerjaanmu. Beres kan..?” tanggap Jody enteng tanpa ada beban sama sekali.

Rie diam saja. Dia sudah hafal betul dengan Jody. Jody sangat alergi dengan yang namanya Fisika. Bahkan buka bukunya saja enggan, gimana mau ngerjain soal-soalnya. Buku Jody yang paling rapi dan bersih adalah Fisika dan Matematika. Padahal hampir semua orang buku-buku yang mengandung aliran tersebut biasanya paling kucel diantara buku-buku lainnya karena sering dibuka, dicorat-coret dan bahkan dibawa kemana-mana tak jelas. Beda halnya dengan Jody, saking alerginya dengan subjek tersebut, sampai-sampai buku nya pun tersusun rapi tanpa pernah dibuka.

Istirahat adalah waktu yang crowded sekaligus tenang, bukannya ramai hura-hura. Karena sudah menjadi tradisi di sekolah mereka, istirahat adalah waktu yang paling efektif untuk mengerjakan peer yang menumpuk dan tak sempat lagi untuk dikerjakan seolah-olah dua puluh empat jam amatlah kurang untuk belajar dan juga mengerjakan peer. Memang, kelas mereka bukanlah kelas akselerasi. Tapi apa dikata, cara pembelajarannya pun tak jauh berbeda dengan kelas akselerasi. Ngebut dan harus aktif sendiri. Bahkan satu bab bisa selesai dalam waktu dua jam pelajaran. Bukannya ngebut karena kurang waktu. Tapi kelebihan waktu digunakan untuk mengkaji lebih dalam tentang materi tersebut, tak hanya menghafal buku saja. Tak jarang soal-soal ujian pun tak ada satu pun yang ada dalam buku, alias mengandalkan pengetahuan dan juga logika kita.

Maka dari itu, bagi Jody, nanggung sekali dia sekolah di situ. Nanggung penderitaannya. Bagaimana tidak, kalau sekolah tempat dia menimba ilmu sebagian besar makhluk-makhluknya memuja ilmu eksak, dengan kata lain Matematika dan Fisika adalah segalanya, segalanya adalah Matematika dan Fisika. Jika dia melancarkan aksi politiknya di sana, maka bisa dipastikan tak ada yang menghiraukan atau lebih parahnya dirajam sekaligus dikubur hidup-hidup biar nama pun tak tersisa.

Jody dengan gerak cepat segera menggeledah tas Rie tanpa ijin. Kelamaan kalau menunggu Rie. Langsung saja semua isi dikeluarkan. Setelah dicari-cari dan dibuka-buka buku milik Rie yang menurut diagnosis Jody adalah buku Fisika, tetap saja tidak ditemukan bukti pekerjaan Rie.

“Hwe, suruh ngerjain apa sih?!” tanya Jody galak pada Rie.

“Apa-apaan ini. Beresin nggak?” Rie balas kekasaran Jody pada dirinya.

“Nggak, sebelum aku ngerjain Fisika,” kata Jody tak bersalah.

“Aku belum  ngerjain ya…. ,” balas Rie santai.

“Hah!! Ah, nggak bilang-bilang dari tadi. Tau gitu aku udah booking orang lain. Ahh… nggak nggunani kau,,” kata Jody emosi sekaligus panik.

“Mana bukuku, aku mau ngerjain,” Rie merebut bukunya dan bersiap untuk mengerjakan.

Jody memandang sekeliling kelas. Matanya jeli melihat siapa saja yang sekiranya bisa menyelamatkan dirinya.

“Hweh,, inikan tanggal 14!!! Nomor keramat tuh…,waduh.. mampus beneran nih,,” keluh Jody panik seakan-akan dunia akan berakhir.

“Ya ayolah ngerjain bareng. Santai aja napa?” komentar Rie santai. Jurus paling ampuh menghadapi Jody yang terkadang terkesan nggegeri adalah bersikap santai.

“Nggak efektif, kelamaan,” kata Jody galak kemudian berkeliling mencari sesuatu yang bisa diconteknya.

Akhirnya dia menemukan satu titik segerombolan bocah sedang mengerubungi sesuatu. Didatanginya segerombolan tadi dengan semangat milenium. Dan benar saja, seperti mendapat ‘talok’ runtuh Jody ikut mengerubungi gerombolan itu. Tapi nasib baik tak berpihak padanya. Benar-benar yang terlihat hanyalah nomornya saja. Tanpa basa-basi Jody merebut buku yang menjadi acuan mereka dan melarikannya ke salah satu bangku yang kosong.

“Heh!!!kurang ajar banget, siapa sih?!” seru seorang galak siap bertarung dengan siapapun dia yang berani-beraninya merebut buku yang sedang disontek bareng-bareng itu.

Yang lain pun ikut protes atas tindak kriminal yang dilakukan Jody. Tanpa basa-basi karena tak ada yang bisa basi segera saja mereka mengejar arah larinya Jody hingga terjadi keributan besar-besaran atas aksi penjarahan buku sontekan tersebut.

“Hei, ini tanggal 14, aku no absen 14 bisa-bisa aku tergenosida pertama kali,” komentar Jody.

“Deritamu. Yang penting aku selamat,” komentar yang lain.

Jody dan lainnya ngebut menyalin pekerjaan entah punya siapa nggak jelas, yang penting sudah ada jawabannya, siapa tahu bisa membantu kalau ada aksi penggenosidaan besar-besaran.

Saking asyiknya menyalin, hingga bel berdering pun tidak mereka hiraukan. Sampai tanda-tanda kehidupan guru Fisika mereka terdeteksi, baru mereka kembali ke sarang masing-masing.

Jody kembali duduk di samping Rie yang santai dengan pekerjaannya yang baru dapat 1 nomor.

Saat-saat yang dinanti pun tiba. Guru Fisika mereka yang bernama Pak Agung masuk kelas dengan gagah tak lupa membawa buku-buku Fisika yang tebal. Tanpa basa-basi Pak Agung langsung bertanya tentang peer yang diberikannya beberapa hari yang lalu. Tanpa basa-basi juga beliau langsung membuka buku andalan mereka bersama dan langsung menemukan soal yang menjadi tugas mereka. Pak Agung mencari daftar nama siswa dan yang berarti bencana akan datang pada siapa saja yang namanya dipanggil.

“Sekarang tanggal berapa?” tanya Pak Agung pada seisi kelas.

“Tanggal lima belas!” seru Jody tanpa ragu.

“Empat belas!!” seru yang lainnya kompak.

“Hmm… oke, sekarang kerjakan soal pertama di depan. Emm tanggal empat belas berarti yang mengerjakan nomor empat belas…. Jody,” panggil Pak Agung santai.

Jody pasrah dengan keadaan. Biar bagaimanapun dia pernah berdiri di kelas selama 20 menit hanya karena tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan Pak Agung seminggu yang lalu. Dan kali ini tak mau lagi kejadian yang menjatuhkan harga dirinya itu terulang kembali. Bagaimanapun caranya dia harus sukses mengerjakan di depan.

Ada hal penting yang dilupakan Jody. Dia lupa kalau mengerjakan ke depan hanya boleh membawa buku soal tanpa buku tulis yang berisi jawaban. Kaget sekali, ternyata jawaban hasil contekannya belum sempurna. Baru setengah jadi. Tak ada waktu mempelajari apalagi menulis rumusnya di buku paketnya, Jody segera menjarah buku milik Citra yang kebetulan duduk di belakangnya. Citra diam saja bukunya direbut Jody, dia tahu bagaimana penderitaan Jody saat ini.

Apa dikata, Jody maju menuju papan tulis dengan perasaan campur aduk. Ingin sekali rasanya dia menyobek kertas daftar nama kelasnya dan membakarnya habis hingga yang tersisa hanyalah abu yang tak bisa dijadikan tersangka dalam kasus pembantaian berantai di depan kelas. Jody meletakkan buku tulis Citra di atas buku Marthen Kanginan yang sudah terbuka halaman mana yang mesti dikerjakan yang jelas bukan halaman rumah.

Kebetulan sekali Bapak Guru tidak memperhatikan. Beliau fokus pada catatannya. Dengan begitu Jody bebas menyalin pekerjaan Citra dengan cepat keburu Pak Agung memperhatikannya. Dan selesai sudah. Sebelum Jody mundur, ternyata Pak Agung telah duluan berpaling menghadapi Jody.

Jody tak sempat lagi menutupi catatannya.

“Kalau mengerjakan, bukunya taruh sini dulu,” kata Pak Agung santai dan mulai berdiri mendekati Jody. Jody tak punya pilihan lagi selain menyerahkan bukunya pada Pak Agung.

Pak Agung meneliti catatan Jody dan mengernyitkan dahi sejenak. Kemudian dengan wajah penasaran membuka halaman depan dan menemukan sebuah nama dalam buku itu.

“Citra???” baca Pak Agung dengan suara yang dapat didengar semua makhluk yang ada di dalam kelas. Jody benar-benar telah tamat riwayatnya. Bahkan bukan dia saja yang kena tapi dia menyeret Citra ke dalam meja hijau juga.

Seisi kelas menyoraki Jody. Jody berusaha untuk santai. Malahan masih sempat-sempatnya dia tersenyum-senyum narsis di depan kelas menghadapi sorakan teman-temannya.

“Ini buku siapa?” tanya Pak Agung tajam pada Jody.

“Ya yang Pak Agung bilang tadi. Namanya kan ditulis di buku,” kata Jody tanpa dosa meski perasaannya saat itu campur aduk tak karuan.

“Mana yang namanya Citra?” tanya Pak Agung sekarang menghadap ke arah murid-muridnya yang sedang berdoa di belakangnya.

Seorang gadis cantik, putih, berambut panjang, polos tanpa dosa yang tak lain bernama Citra mengangkat tangannya dengan takut. Rie pura-pura membalik-balik halaman buku, tak mau tahu dalam kasus kali ini.

bersambung……🙂

July 17, 2010 - Posted by | novel | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: