Mush'ab Zahra Blog

Inspirasi Hidup

Sang Juara

Suatu sore yang cerah, tiada awan hitam yang menyelimuti nusantara, pergilah Dendy, seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jogja tersebut menuju ke sebuah taman.Tempat itu tenang dan pemandangannya indah sepanjang mata memandang. Meski terlihat juga satu dua bungkus makanan berserakan tidak beraturan disana. ‘Buanglah sampah pada tempatnya’, nampaknya efek yang ditimbulkan tidak begitu besar.

Dendy memandang anak-anak yang sedang bermain sepak bola. Hati yang polos tanpa beban masalah tercermin dari wajah berseri mereka. Ternyata taman itu bukan sekedar taman yang berisi orang-orang yang berpacaran. Melainkan sebuah taman tempat orang melakukan berbagai kegiatan untuk mengurangi stress seperti olah raga ataupun hanya melamun memandang anak-anak yang berlarian sambil tertawa bahagia.

Dendy duduk dan melihat sekelilingnya. Rasanya nyaman berada di tengah-tengah orang dari anak-anak hingga lanjut usia yang sedang asyik berolah raga maupun hanya ngobrol sambil tertawa bahagia bersama teman atau keluarga mereka. Tatapan Dendy berhenti pada satu titik. Titik sosok bayangan hitam. Sosok cowok yang rasanya tidak asing baginya. Dendy segera menghampiri cowok yang duduk di salah satu kursi taman itu. Cowok yang tampaknya dari tadi sibuk dengan kertas dan pensilnya.

“Emm, permisi, boleh saya duduk disini?” tanya Dendy hati-hati dan mencoba memastikan bahwa dia kenal dengan manusia yang berada di depannya itu.

“Oh, ya, silakan,” kata cowok itu lalu berpaling dari coretannya memandang Dendy. Kemudian tersenyum lebar ketika tahu siapa yang berada didepannya.

“Ha… Dendy! Ya, Dendy kan?” sambut cowok itu dengan wajah berseri-seri.

“Raihan??” balas Dendy sekarang benar-benar yakin cowok di depannya itu adalah teman SMA nya.  Tapi dia masih belum yakin, bagaimana bisa temannya itu ada di kota perantauan ini.  Cowok yang terdeteksi bernama Raihan itu mengangguk semangat sambil tertawa.

Kemudian Dendy dan Raihan bersalaman. Dendy duduk di samping Raihan. Dia memperhatikan kertas yang dipegang Raihan. Dia masih ingat, temannya itu hobi bahkan jago menggambar. Tidak hanya menggambar saja, tapi juga jago matematika.

“Kamu ngapain disini?” tanya Dendy.

“Menggambar,” jawab Raihan enteng.

“Iya… aku tahu. Kamu selalu nyari obyek apa saja yang bisa digambar. Tapi bagaimana kau bisa sampai kesini? Ke tempat saudaramu?” tanya Dendy lagi.

“Enggak. Kesini buat kuliah dong… Masa cuma mau menggambar saja sampai ke kota pelajar ini,” kata Raihan.

“Kuliah disini juga? Dimana?” tanya Dendy penasaran.

“Tuh,” Raihan menunjuk sebuah gedung kampus.

“Aku juga kuliah disitu! Kok nggak cerita kau juga kuliah disitu?” kata Dendy tertawa semangat.

Begitulah seterusnya. Dendy dan Raihan terus saja bercerita. Bercerita apa saja yang dapat diceritakan.

Hingga akhirnya sesuatu membuat segalanya hilang. Dendy membuka matanya. Tampak seorang anak menggoncang-goncang tubuhnya. Dendy sadar bahwa tadi dia tertidur. Dia memandang berkeliling. Tidak ada Raihan. Raihan raib. Semuanya mimpi. Ternyata memperhatikan anak yang disampingnya menggambar membuatnya teringat Raihan hingga terbawa mimpi. Sejak kapan dia tertidur rasanya tidak bisa mengingat lagi. Yang diingatnya adalah dia merasa mengantuk karena kemarin begadang nonton film dan angin sepoi-sepoi membuatnya tertidur seketika.

Yah, Raihan. Teman sekaligus idola bagi Dendy. Raihan seorang ikhwan yang cakep, soleh dan prestasi oke. Dia tidaklah kuliah di tempat yang sama dengan Dendy saat ini. Sang juara olimpiade matematika itu akan menempuh pendidikan S1 nya di Singapura. Bukan karena dia anak orang kaya yang punya banyak duit untuk kuliah ke luar negeri. Bahkan saat SMA pun dia sudah bekerja sampingan sebagai guru les. Dan akhirnya beasiswa mengantarkannya ke Singapura.

Janganlah berhenti bermimpi indah sebelum hari esok menjemput mimpi. Itu yang selalu dikatakan Raihan padanya. Raihan bisa kuliah di Singapura bukan sekedar kebetulan, tapi semuanya diawali dari sebuah impian. Impian besar untuk menjadi orang besar.

July 13, 2010 - Posted by | cerpen | , , , , , , , , , , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: